Kamis, 29 Maret 2012

TEORI-TEORI KEBENARAN DALAM FILSAFAT


PENDAHULUAN

Dalam kehidupannya di dunia, manusia selalu mencari kebenaran. Karena, dengan menemukan kebenaran tersebut, manusia akan mendapatkan ketenangan dalam dirinya. Dalam pencarian kebenaran itu manusia menggunakan berbagai cara yang setiap individunya berbeda.
Kebenaran menurut tiap individu dapat berbeda-beda, tergantung sudut pandang dan metode yang digunakan oleh individu tersebut. Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran dalam perenungannya akan menemukan tiga bentuk eksistensi, yaitu agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Agama mengantarkan dalam kebenaran, dan filsafat membuka jalan untuk mencari kebenaran.[1]
Dalam ilmu pengetahuan, kebenaran diperoleh dengan cara metode ilmiah. Untuk menemukan dan merumuskan sebuah teori atau rumus, harus sampai pada kebenaran yang benar-benar valid. Nah, yang menjadi permasalahan adalah bahwa dalam menemukan kebenaran tersebut ada perbedaan dari setiap individu baik cara maupun metode yang digunakan. Sehingga muncul sebuah perbedaan pula mengenai kriteria kebenaran.
Filsafat dipahami sebagai suatu kemampuan berfikir mengguakan rasio dalam menyelidiki suatu objek atau mencari kebenaran yang ada dalam objek yang menjadi sasaran. Kebenaran itu sendiri belum pasti melekat dalam objek. Terkadang hanya dapat dibenarkan oleh persepsi-persepsi belaka, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai universal dalam filsafat.[2]
Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan sedikit mengenai teori-teori kebenaran dalam ilmu pengetahuan dan bagaiman teori-teori kebenaran ilmiyah itu berbicara.

PEMBAHASAN
TEORI – TEORI KEBENARAN

1.     Teori Kebenaran Korespondensi
Kebenaran korespondesi adalah kebenaran yang bertumpu pada relitas objektif.[3] Kesahihan korespondensi itu memiliki pertalian yang erat dengan kebenaran dan kepastian indrawi. Sesuatu dianggap benar apabila yang diungkapkan (pendapat, kejadian, informasi) sesuai dengan fakta (kesan, ide-ide) di lapangan.[4]
Contohnya: ada seseorang yang mengatakan bahwa Provinsi Yogyakarta itu berada di Pulau Jawa. Pernyataan itu benar karena sesuai dengan kenyataan atau realita yang ada. Tidak mungkin Provinsi Yogyakarta di Pulau Kalimantan atau bahkan Papua.
Cara berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini. Teori kebenaran menurut corespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga pendidikan moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian moral yang telah merupakan kebenaran itu. Apa yang diajarkan oleh nilai-nilai moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam tingkah lakunya.[5]
2.     Teori Kebenaran Koherensi
Teori ini disebut juga dengan konsistensi, karena mendasarkan diri pada kriteria konsistensi suatu argumentasi. Makin konsisten suatu ide atau pernyataan yang dikemukakan beberapa subjuk maka semakin benarlah ide atau pernyataan tersebut. Paham koherensi tentang kebenaran biasanya dianut oleh para pendukung idealisme, seperti filusuf Britania F. H. Bradley (1846-1924).[6]
Teori ini menyatakan bahwa suatu proposisi (pernyataan suatu pengetahuan, pendapat kejadian, atau informasi) akan diakui sahih atau dianggap benar apabila memiliki hubungan dengan gagasan-gagasan dari proporsi sebelumnya yang juga sahih dan dapat dibuktikan secara logis sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan logika.[7] Sederhannya, pernyataan itu dianggap benar jika sesuai (koheren/konsisten) dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contohnya:
  1. Setiap manusia pasti akan mati. Soleh adalah seorang manusia. Jadi, Soleh pasti akan mati.
  2. Seluruh mahasiswa PAI, Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Jogja mengikuti perkuliahan Filsafat Ilmu. Edy adalah mahasiswa PAI, Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Jogja. Jadi, Edy harus mengikuti kegiatan perkuliahan Filsafat ilmu.
3.     Teori Kebenaran Pragmatik/Pragmatisme
Artinya, suatu pernyataan itu benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.[8] Teori pragmatis ini pertama kali dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make Our Ideas Clear”.[9]
Dari pengertian diatas, teori ini (teori Pragmatik) berbeda dengan teori koherensi dan korespondensi. Jika keduanya berhubungan dengan realita objektif, sedangkan pragmamtik berusaha menguji kebenaran suatu pernyataan dengan cara menguji melalui konsekuensi praktik dan pelaksanaannya.
Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima pengalaman pribadi, kebenaran mistis, yang terpenting dari semua itu membawa akibat praktis yang bermanfaat.[10]
4.     Teori Kebenaran Performatik
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya. Kebenaran performatif dapat membawa kepada kehidupan sosial yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil dan sebagainya. Namun, dismping itu juga masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran dari pemegang otoritas.[11]
Contohnya; mengenai penetapan 1 Syawal. Sebagian umat muslim di Indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau pemerintah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu.
5.     Teori Kebenaran Struktural Pardigmatik
Suatu teori itu dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma tersebut. Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota suatu masyarakat sains atau dengan kata lain masyarakat sains adalah orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama. Masyarakat sains bisa mencapai konsensus yang kokoh karena adanya paradigma.[12]
Dengan kekuatan paradigma dan masyarakat sains pendukungnya, diharapkan kebenaran struktural paradigmatik dapat menjawab berbagai problema kehidupan manusia di masa depan. Krisis global berupa krisis lingkungan dan krisis kemanusiaan yang selama ini telah dialami oleh manusia karena Sains Modern, cepat atau lambat akan dijawab oleh konsensus baru dengan paradigma yang menghasilkan metode yang lebih tepat dalam mengantisipasi krisis global tersebut. [13]

KESIMPULAN

            Dari pembahasan di depan, dapat disimpulkan bahwa dalam menemukan kebenaran manusia berbeda-beda dalam metode dan cara berfikirnya, sehingga muncullah teori-teori kebenaran yang bermacam-macam. Kebenaran ilmiah ada lima teori, yaitu teori korespondensi, koherensi/konsistensi, pragmatik, performatik, dan struktural paradigmatik. Namun, dalam referensi lain, penulis menemukan teori-teori kebenaran lain. Hanya saja yang menjadi pokok bahasan dalam mata kuliah filsafat ilmu hanya kelima teori ini.
                Kelima macam teori kebenaran di atas adalah berbagai cara manusia memperoleh kebenaran yang sifatnya relatif atau nisbi. Kebenaran absolut atau kebenaran mutlak berasal dari Tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui wahyu. Alam dan kehidupan merupakan sumber kebenaran yang tersirat dari tuhan untuk dipelajari dan diobservasi guna kebaikan umat manusia.
            Diakhir, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, sehingga penulis sangad mengharapkan kritikan-kritikan yang membangun dari para pembaca. Terima kasih......



DAFTAR PUSTAKA

Adib, Muhammad. “FILSAFAT ILMU: Ontologi, Epistimologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan”. Yogyakarta: Puataka Pelajar. 2010
Ahmad, Beni Saebani. “FILSAFAT ILMU: Kontemplasi Filosofis tentang Seluk-beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan”. Bandung: Pustaka Setia, 2009
Kattsoff, Louis O. “Pengantar Filsafat”. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2004
Suriasumantri, Jujun S. “FILSAFAT ILMU: Sebuah Pengantar Populer”. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007


[1] Drs. H. Moh. Adib. “Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistimologi, Aksiologi, dan logika ilmu pengetahuan”. hal: 117
[2] Ibid, hal: 117
[3] Drs. Beni Ahmad Saebani. “Filsafat Ilmu: Kontemplasi filosofis tentang seluk beluk sumber dan tujuan ilmu pengetahuan”. hal: 7
[4] Drs. H. Moh. Adib. “Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistimologi, Aksiologi, dan logika ilmu pengetahuan”. hal:122
[6] Louis O. Kattsoff. “PENGANTAR FILSAFAT” hal: 176
[7] Drs. H. Moh. Adib. “Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistimologi, Aksiologi, dan logika ilmu pengetahuan”. hal:121
[8] Jujun S. Suriasumantri. “Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer”.  Hal: 59
[9] Ibid. Hal: 57
[10] Drs. Beni Ahmad Saebani. “Filsafat Ilmu: Kontemplasi filosofis tentang seluk beluk sumber dan tujuan ilmu pengetahuan”. hal: 7
[12] Ibid,
[13] Ibid,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar